Skip to main content

Antara -Ku dan -Mu

Aku. Gadis itu.

Entah telah berapa ratus detik terbuang kala kedua indera penglihatanku memperhatikannya lekat. Ku bilang, ini bukan 'terbuang' , karena bagiku tak pernah sia-sia untuk memandanginya dari jarak beberapa meter saja. Ya, kami memang dekat. Namun tak sedekat itu. Ruangan berukuran........ Berapa ya? Aku belum sempat menghitungnya dengan jemariku, yang jelas di ruangan inilah sehari-harinya kami dipertemukan.

"Besok ada tugas apa?" Kata-kata ini lazim mampir di telingaku dan kata-kata ini pula lah yang lazim meluncur dari mulutnya. Dia bertanya kepadaku, kala aku tengah terduduk di sebuah bangku dekat meja guru. Sejurus kemudian ku buka buku yang sepintas nampak seperti diary -atau memang sebuah diary yang ku alihfungsikan sebagai buku catatan tugas- Tanganku membuka lembar demi lembar, mencari halaman yang kucari. Kubaca perlahan tulisan yang ada di halaman tengah buku itu, dan kemudian memandang seseorang yang berdiri di sampingku.
"Udah kan? Itu tugasnya." Aku tersenyum, menutup kembali buku itu dan mengembalikannya ke kolong meja.
"Banyak juga ya. Ya udah, makasih." Lelaki itu berlalu meninggalkanku dan kembali ke bangkunya. Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk tak menoleh dan melihat laju pergerakannya. Meski begitu, tanpa disadari sarafku tertarik dan membuat sebuah ekspresi senyuman.

Aku memutuskan untuk merebahkan kakiku sejenak. Membiarkan tulang-tulang yang menopang badanku menyiapkan energi baru. Aku melihat ke sekeliling. Ya, lelaki itu tengah berada di sana. Di depan sebuah kelas yang tak berbeda dengan kelas lainnya di sekolah kami. Ia membolak-balikkan buku dan menulis sesuatu di selembar kertas. Hingga akhirnya seorang gadis menghampirinya, bertanya sesuatu yang sudah kutebak pasti urusan pelajaran. Mereka berbincang sejenak, hingga gadis itu menunjuk sebuah lemari buku yang ada di sampingku. Lelaki itu menoleh, dan tanpa kami sadari kedua pasang bola mata itu saling bertemu pandang. Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain, kemudian aku tersenyum meski hanya seulas senyum yang tipis.

-o-
Dialah aku. Lelaki itu.

Entah ada sesuatu yang menarik dari dirinya. Sorot matanya? Sifatnya? Aku bahkan tak tahu persis. Yang kutahu aku hanya suka sekali memandangnya. Iya, suka sekali.
Sudah berkali-kali pertanyaan ini kutanyakan dengan siapa saja yang kutemui di kelas ini. Namun entah mengapa aku hampir selalu menyempatkan diri untuk bertanya mengenai hal yang sangat sederhana ini.
Langkahku semakin dekat dengannya, dekat dengan seseorang yang tengah terduduk tenang di barisan depan. Aku telah berada di sampingnya sekarang, namun sepertinya ia tak menyadari kehadiranku disana. Aku mematung beberapa saat memperhatikan gadis itu sejenak. Ya, gadis ini yang menyita perhatianku beberapa waktu belakangan.
"Besok ada tugas apa?" Pertanyaan yang simpel namun cukup untuk membuat alasan agar dapat berinteraksi dengannya. Ia membuka buku catatan tugasnya, cukup lama untuk membuka lembar demi lembarnya sehingga aku dapat memandang lekat padanya meski hanya beberapa saat.
Ia membacakan deretan tugas yang tertera jelas dengan tulisan tangan yang menurutku menyenangkan untuk melihatnya. Kau tahu, sebenarnya aku telah bertanya tentang tugas-tugas ini pada temanku yang lain namun bukankah menarik dan menyenangkan dapat berinteraksi dengan orang yang kau yakini bahwa kau menyukainya? Ya. Itu yang kurasakan.
"Udah kan? Itu tugasnya." Ucapnya sambil tersenyum. Senyum gadis itu yang aku tunggu-tunggu, entah mengapa awan mendungpun terlihat cerah karenanya. Yah, memang sedikit berlebihan. Tapi apa kau tahu, aku suka melihat senyumnya. Senyum yang selama ini kuperhatikan diam-diam.

Kali ini ia tengah berada di belakang, maksudku di bagian belakang kelas ini. Meski aku tengah mengerjakan tugas dan menghadap papan, namun aku tahu ia tengah merebahkan kedua kakinya di lantai.
Seorang temanku menghampiriku menanyakan tugas yang belum dikumpulkan.
"Kamu belum selesai, kan? Nanti kalau sudah semua ditaruh di atas lemari buku." ucap gadis itu.
"Itu di atas lemari , yang ada tumpukan buku." ucapnya sambil menunjuk ke arah belakang.
Gadis itu menunjuk ke sebuah lemari kayu, dimana terdapat seorang gadis yang tengah terduduk di samping benda itu. Aku mengangguk, memperhatikan tumpukan buku dan sesekali memperhatikan gadis yang tengah merebahkan kakinya. Hingga pada akhirnya kedua mata kami bertemu meski hanya untuk beberapa detik. Gadis itu mengalihkan pandangannya, begitu pula aku. Meski begitu, aku tetap mencuri pandang padanya, melihat senyum manis tipis yang tergambar di wajahnya yang saat ini tengah mengalihkan pandangannya dariku.
Senyum itu tipis, tipis sekali. Namun manis, manis sekali.

-o-
Ini adalah kisah antara -Ku dan -Mu, dimana kita saling mengira hanya satu pihak yang mengagumi satu sama lain. Saling mengira bahwa kita adalah itik buruk rupa yang hanya dapat memendam rasa. Mengira bahwa kita tak layak untuk dikagumi dan hanya menghabiskan waktu untuk mengagumi. 
Entah bagaimana cerita ini akan berakhir. Aku yang memendam dan kamu pula yang menyembunyikan, hingga kita sama-sama tak tahu dan pada akhirnya hanya dapat tersenyum dan bertegur sapa dalam kepura-puraan. Kepura-puraan yang terbingkai indah dalam sebuah bingkai teman biasa, meski satu sama lain menginginkan ada sesuatu yang menghiasinya.
Ini adalah kisah -Ku dan -Mu. Iya, ini tentang AKU & KAMU.



Comments

Popular posts from this blog

Cemara dan Perpisahan

Aku tak kuasa menyaksikan sirat di pelupuk matamu itu. Bulatan obsidian itu, mengapakah ia begitu kelabu? Ia tiada secerah pendar cahaya matahari esok kemarin melainkan merupa guratan-guratan mendung yang menaungi kita sore itu, sore di bulan Januari. Kita bertemu di sore itu. Kau tampak amat kelabu, kuyu, dan lesu. Segalanya tak ubahnya simbol kelemahan dan kegoyahan dirimu padaku. Air muka itu, bukankah ia hasil dari himpunan dan kumpulan memori masa lalu itu? Masa lalu? Tunggu, apa itu salahku? Pertemuan itu. Tepat di depan mataku, pada akhirnya tumpah jua dirimu. Buliran air mata itu enggan terbendung dan membanjir ke sudut matamu. Namun, lagi-lagi keadaanmu yang satu itu, selalu kau selingi dengan tawa ironimu. Tawa yang seakan bercitra bahwa semua ini baik-baik saja. Sebuah tawa yang juga jadi senjata milik manusia demi penyangkalan pada kelemahan.

[Review] Novel by Alvi Syahrin, I Love You; I Just Can’t Tell You

Penulis   Alvi Syahrin Tebal viii + 276 hlm Penerbit   Gagasmedia Cetakan   Pertama, 2015 Harga   Rp55.000 “Cinta yang sesungguhnya tidak perlu menggebu-gebu. Cinta yang sesungguhnya itu menenangkan.” -I Love You; I Just Can’t Tell You Cinta pertama, menjadi garis besar dalam novel ke-3 karya Alvi Syahrin ini. Ikut dalam series Love Cycle , buku ini menjadi pembuka bagaimana siklus cinta itu bergulir. Mengisahkan Daisy Yazawa, gadis ‘luar biasa’ yang selalu ingin tumbuh dewasa dan merasakan cinta seperti remaja kebanyakan. Di awal bab, penulis sudah membeberkan konflik batin dalam dirinya. Daisy yang tidak tumbuh merasa selalu diejek teman-temannya akhirnya melabuhkan hati pada seorang kakak mahasiswa bernama Alan Atmadjaya. Selanjutnya kisah-kisah pun bergulir, kehadiran Violetta (Ve), teman Al-begitu ia memanggil Alan-juga  memiliki kisah tersendiri dan rahasia yang disimpannya rapat-rapat. Siapa menyangka detik yang begit...

Rayakan Siklus Cinta lewat Untaian Nada

Mengenal siklus cinta ibarat menyelami siklus hidrologi. Kau tahu kenapa? Sebab perputaran air tak melulu menyoal siklus panjang ataupun sedang, terkadang air sudah merasa cukup dengan siklus pendeknya.  Sebagaimana halnya dengan cinta, setiap dari kita punya siklusnya masing-masing. Dan serupa kisah kau dan aku, kita telah melewati 6 fase luar biasa yang menurutku terlampau pantas untuk diiringi dengan alunan lagu. Hai, kau, temanku, mari merapat dan dengarkan sejenak. Mari selami rupa-rupa rasa yang sempat kau torehkan dalam hidupku. Tembang-tembang ini, bukankah mereka terdengar syahdu di telingamu? Meski malu, harus kuakui 'When You Love Someone' milik Endah N Rhesa jadi lagu kebangsaanku kala itu Cinta Pertama : I love you, I just can't tell you.  #1. When You Love Someone - Endah N Rhesa “Jatuh cinta pada kali pertama memberiku satu kesempatan untuk menorehkan luka memar. Memar yang kubuat sendiri kala aku tak mampu bersuara dan berujar bahwa aku me...