Skip to main content

Tempat Baru Kita

Karena setiap cerita memiliki ruang sendiri di dalam hati.
-Let Go

Hai. SMA ya? Iya, SMA. Tempat baru, atmosfer baru. Dan, semua yang serba baru ini sangat berhubungan dengan sebuah kata yang di KBBI kita menyebutnya sebagai "ADAPTASI".
Untuk menerima sebuah perubahan, tentunya dibutuhkan hati yang terbuka. Ya, begitu seharusnya.
Kau tahu, tak enak dibandingkan. Dan tentu saja lelah untuk membandingkan. Keadaan memang tak bisa dipaksakan, kadang-kadang kita hanya cukup menerimanya. Itu saja.
Berada di tempat yang salah, kalimat itulah yang pernah muncul di benakku. But, as long as I grow aku tahu aku bukan anak kecil lagi yang hanya meminta semuanya berjalan sesuai kemauan.Memang terdengar sedikit menyakitkan. Namun semuanya udah beda, iya. BEDA. GAK SAMA.
Jarum jam memang bergerak seperti ia seharusnya, namun bagiku jarum jam bergerak dengan kecepatan cahaya. Iya, waktu memang berjalan sangat cepat. "Kok cepet banget?" "Nggak kerasa udah 4 bulan ya?" Begitulah waktu, sebenarnya ia berjalan mengiringi langkahmu. Namun sering, kau hanya membiarkannya lewat tanpa memiliki makna.
Seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang kutemukan di tempat baruku ini. Banyak hal yang kadang membuatku senyum sendiri, berada di tempat yang kita anggap salah terkadang memberi banyak pelajaran. Mencoba untuk tetap survive adalah sebuah pembelajaran tersendiri.
Ceritaku dulu dan sekarang -bersama kalian- adalah kumpulan cerita berbeda. Kumpulan cerita yang ada di dalam bab yang berbeda.
Dan teman-teman, hari-hari yang kita lewati sudah terhitung lumayan. Dan sekarang, dengan semua yang telah kita lewati. Dengan semua masalah yang membuat beberapa orang bersautan dan berteriak. Dengan semua kata-kata orang mengenai tempat baru kita. Suara-suara yang kurang enak di dengar gendang telinga.
Dengan kebersamaan yang tinggal satu semester lagi. Aku rasa, aku akan merindukan kalian. Aku pernah berkata ini sebelumnya, kepada seseorang yang tak sengaja membicarakan tempat baru kita. Aku benar-benar mengatakannya, menatap kalian dengan pandangan menyeluruh.
Ya, I'll miss you, I'll miss this class. 



Comments

Popular posts from this blog

Cemara dan Perpisahan

Aku tak kuasa menyaksikan sirat di pelupuk matamu itu. Bulatan obsidian itu, mengapakah ia begitu kelabu? Ia tiada secerah pendar cahaya matahari esok kemarin melainkan merupa guratan-guratan mendung yang menaungi kita sore itu, sore di bulan Januari. Kita bertemu di sore itu. Kau tampak amat kelabu, kuyu, dan lesu. Segalanya tak ubahnya simbol kelemahan dan kegoyahan dirimu padaku. Air muka itu, bukankah ia hasil dari himpunan dan kumpulan memori masa lalu itu? Masa lalu? Tunggu, apa itu salahku? Pertemuan itu. Tepat di depan mataku, pada akhirnya tumpah jua dirimu. Buliran air mata itu enggan terbendung dan membanjir ke sudut matamu. Namun, lagi-lagi keadaanmu yang satu itu, selalu kau selingi dengan tawa ironimu. Tawa yang seakan bercitra bahwa semua ini baik-baik saja. Sebuah tawa yang juga jadi senjata milik manusia demi penyangkalan pada kelemahan.

[Review] Novel by Alvi Syahrin, I Love You; I Just Can’t Tell You

Penulis   Alvi Syahrin Tebal viii + 276 hlm Penerbit   Gagasmedia Cetakan   Pertama, 2015 Harga   Rp55.000 “Cinta yang sesungguhnya tidak perlu menggebu-gebu. Cinta yang sesungguhnya itu menenangkan.” -I Love You; I Just Can’t Tell You Cinta pertama, menjadi garis besar dalam novel ke-3 karya Alvi Syahrin ini. Ikut dalam series Love Cycle , buku ini menjadi pembuka bagaimana siklus cinta itu bergulir. Mengisahkan Daisy Yazawa, gadis ‘luar biasa’ yang selalu ingin tumbuh dewasa dan merasakan cinta seperti remaja kebanyakan. Di awal bab, penulis sudah membeberkan konflik batin dalam dirinya. Daisy yang tidak tumbuh merasa selalu diejek teman-temannya akhirnya melabuhkan hati pada seorang kakak mahasiswa bernama Alan Atmadjaya. Selanjutnya kisah-kisah pun bergulir, kehadiran Violetta (Ve), teman Al-begitu ia memanggil Alan-juga  memiliki kisah tersendiri dan rahasia yang disimpannya rapat-rapat. Siapa menyangka detik yang begit...

Rayakan Siklus Cinta lewat Untaian Nada

Mengenal siklus cinta ibarat menyelami siklus hidrologi. Kau tahu kenapa? Sebab perputaran air tak melulu menyoal siklus panjang ataupun sedang, terkadang air sudah merasa cukup dengan siklus pendeknya.  Sebagaimana halnya dengan cinta, setiap dari kita punya siklusnya masing-masing. Dan serupa kisah kau dan aku, kita telah melewati 6 fase luar biasa yang menurutku terlampau pantas untuk diiringi dengan alunan lagu. Hai, kau, temanku, mari merapat dan dengarkan sejenak. Mari selami rupa-rupa rasa yang sempat kau torehkan dalam hidupku. Tembang-tembang ini, bukankah mereka terdengar syahdu di telingamu? Meski malu, harus kuakui 'When You Love Someone' milik Endah N Rhesa jadi lagu kebangsaanku kala itu Cinta Pertama : I love you, I just can't tell you.  #1. When You Love Someone - Endah N Rhesa “Jatuh cinta pada kali pertama memberiku satu kesempatan untuk menorehkan luka memar. Memar yang kubuat sendiri kala aku tak mampu bersuara dan berujar bahwa aku me...