Skip to main content

Keluhanku Pada Hujan Tadi Sore



Matahari telah kehilangan pilar-pilar cahayanya.
Tepat setelah gumpalan awan abu-abu menggantikan posisinya.
Bertepatan dengan aku yang tengah bersila.
Menatap catatan-catatan gila tentang yang namanya cinta.

Hujan, kau tahu tidak…
Ada dua bayangan yang menghantuiku sekarang.
Dua bayangan yang dua-duanya berjarak.
Terlihat dekat memang.
Namun sukar untuk dijangkau.

Hujan, kau tahu tidak..
Pemilik bayangan itu sayangnya bukan untuk kumiliki.
Mereka tercipta bukan untuk diriku.

Hujan, apa kau tahu…
Sudah lama kata cinta tak mampir di pelabuhanku.
Sudah lama kata cinta enggan mendekat padaku.
Sekedar menyapa saja, ia tak mau.

Namun hujan, apa kau tahu..
Kini aku mulai merasakannya lagi.
Bukan, bukan rasa jatuh cinta.
Tapi rasa sakit hatinya.

Dan hujan, biarkanlah air mataku bersatu dengan butiran airmu.
Agar tak seorangpun tahu ada aku.
Aku yang tengah duduk kesakitan.
Melihat dua bayangan yang tak kunjung mendekat.

Hujan, untuk kali ini saja.
Karena esok hari senyumku pasti akan terkembang.
Air mataku akan luruh terkena kilauan sinar mentari.
Meski untuk beberapa masa ke depan.
Perasaanku masih akan sama.
Ya, ini yang namanya sakit hati.

Comments

Popular posts from this blog

Teruntuk Kita yang Diam-Diam Saling Jatuh Cinta

Tulisan ini sebenarnya saya kirimkan ke redaksi Hipwee berharap bisa dimuat, tapi ternyata dua minggu ini tanpa kabar. Jadi, saya tuliskan di sini saja. Oh iya, gaya bahasanya juga tidak sepuitis biasanya mengingat tujuan awal penulisannya adalah untuk laman Hipwee. Tak usah berpanjang lebar, selamat mengkhidmati! :) Tidak banyak orang yang bisa mengekspresikan rasa cintanya via www.hdwallpapers.in Aku jatuh hati pada seseorang yang kutemui tiap hari. Aku jatuh hati pada kamu yang dahulu tak punya posisi di hati namun kini jadi personil utama singgasana hati. Kamu sang pencuri hati yang hingga kini belum tertangkap polisi.   Menyukaimu, aku perlu waktu Aku butuh waktu, gambar via favim.com Kamu bukan seseorang yang punya sejuta pesona atau karisma, bukan pula lelaki tampan dengan dada kotak-kotak dan kamu juga bukanlah seseorang yang punya kecerdasan setinggi langit. Kamu hanya manusia biasa, sosok rata-rata yang pada mulanya tak istimewa di mataku. Kamu bu...

Where's Good in Good Bye?

Baru saja Diana selesai memanggang kue coklat kesukaan pria itu. Bahkan peluhnya belum kering sempurna, ia sudah harus berjalan mendekati gagang pintu untuk mengetahui apa yang terjadi di balik sana. Suara bel itu meraung-raung tepat pukul empat tiga puluh sore hari. Jam-jam yang sama ketika Diana dan Bara seringkali bercengkerama sembari mencicip cookie yang dibuat gadis itu tiap mensiversary mereka. Perayaan yang sudah tak pernah Diana kenali beberapa tahun belakangan ini, yang meski begitu ia akan secara otomatis membuat kue, kue yang beberapa tahun ini ia cicipi sendiri. Ia hidup dalam kesendirian yang panjang. Kesendirian yang lelap, yang belakangan ini membuatnya frustrasi setengah mati. Diana tak pernah berpikir bahwa kisah cintanya akan terkatung-katung layaknya jemuran tetangga yang sering ia temui di seberang pagar. Ia tak pernah mengira, bahwa ketidakhadiran Bara akan membawanya menjadi sesedih ini. Diana tak pernah tahu bahwa hari ini adalah saatnya, hari ini akhir...

Cemara dan Perpisahan

Aku tak kuasa menyaksikan sirat di pelupuk matamu itu. Bulatan obsidian itu, mengapakah ia begitu kelabu? Ia tiada secerah pendar cahaya matahari esok kemarin melainkan merupa guratan-guratan mendung yang menaungi kita sore itu, sore di bulan Januari. Kita bertemu di sore itu. Kau tampak amat kelabu, kuyu, dan lesu. Segalanya tak ubahnya simbol kelemahan dan kegoyahan dirimu padaku. Air muka itu, bukankah ia hasil dari himpunan dan kumpulan memori masa lalu itu? Masa lalu? Tunggu, apa itu salahku? Pertemuan itu. Tepat di depan mataku, pada akhirnya tumpah jua dirimu. Buliran air mata itu enggan terbendung dan membanjir ke sudut matamu. Namun, lagi-lagi keadaanmu yang satu itu, selalu kau selingi dengan tawa ironimu. Tawa yang seakan bercitra bahwa semua ini baik-baik saja. Sebuah tawa yang juga jadi senjata milik manusia demi penyangkalan pada kelemahan.