Skip to main content

Bangku Keramat

Dalam 3 hari terakhir ini, lebih tepatnya tertanggal 9-11 April 2011 aku menjalani yang namanya Final Examination for JHS, beda dari UN sebelumnya. Soal dari UN ke-2 ku kali ini berasal dari Pilot International Academy. Okay, stop talkin' about that!
Bangku keramat, I'll tell you this story .
Jadi, selama UN ke-2 aku dan temen2 sekelas terbagi jadi 2 kelas. Dan aku masuk di ruang 1. Di ruang 1 ini, aku duduk di baris ke-2 dari pintu dan berada di urutan ke-4 (ke-2 dari belakang)
Disinilah awal cerita itu dimulai....
Sebenernya yang aku maksud 'BANGKU KERAMAT' itu bukan setan atau semacamnya.
Tapi sesuatu yg menyangkut masa lalu dan hati......

Jadi, di bangku itu ada sebuah coretan pulpen tulisannya 'B*****  ME Y***' 
Dan jleb. nancep gitu aja...

Dan refleks aku ambil pulpen dan nyoret pake tinta hitam tulisan 'B*****' 
Dan gak berhenti sampai disitu aja, ternyata di sisi bangku yang lain ada nama B itu juga! Bedanya , seseorang yang nulis namanya itu pake TIP-X (stipo) dengan ukuran JUMBO ! (JUMBO MAMEEEN)

Sampai akhirnya I told this to my classmate , she was behind me. Kurang lebih kayak gini:
A : He liaten ini! *sambil nunjuk tulisan super jumbo itu*
K : Mana seh? B? Barnie? *nama disamarkan*
A : *Diem* *masih nunjuk*
K : B***** ! *ketawa*
A : Ini lo juga ada, tp udah tak coret2 *nunjukin bekas coretan di meja*
K : *Ketawa* Gak usah ungkit masa lalu...
A : -__-
Dan kurang lebih kayak gitu.
Masa lalu, masa lalu yang kayak gimana. Akupun juga gak tau persis. Aku sadar saat aku refleks nyoret nama itu, perasaan itu udah agak biasa. Nggak kayak dulu lagi. Walaupun masih ada dikit banget, dan makanya itu aku nyoret (karena masih ada, walaupun dikit)
Untuk sementara ini waktu aku udah nggak ketemu dia lagi. It's okay. Dan aku baik-baik aja, w/ or w/o you... Aku biasa ke dia, mulai dari dulu hingga sekarang-detik ini juga-

Cause I'm mov?ing on ;)


11 Mei 2012

Comments

Popular posts from this blog

Cemara dan Perpisahan

Aku tak kuasa menyaksikan sirat di pelupuk matamu itu. Bulatan obsidian itu, mengapakah ia begitu kelabu? Ia tiada secerah pendar cahaya matahari esok kemarin melainkan merupa guratan-guratan mendung yang menaungi kita sore itu, sore di bulan Januari. Kita bertemu di sore itu. Kau tampak amat kelabu, kuyu, dan lesu. Segalanya tak ubahnya simbol kelemahan dan kegoyahan dirimu padaku. Air muka itu, bukankah ia hasil dari himpunan dan kumpulan memori masa lalu itu? Masa lalu? Tunggu, apa itu salahku? Pertemuan itu. Tepat di depan mataku, pada akhirnya tumpah jua dirimu. Buliran air mata itu enggan terbendung dan membanjir ke sudut matamu. Namun, lagi-lagi keadaanmu yang satu itu, selalu kau selingi dengan tawa ironimu. Tawa yang seakan bercitra bahwa semua ini baik-baik saja. Sebuah tawa yang juga jadi senjata milik manusia demi penyangkalan pada kelemahan.

[Review] Novel by Alvi Syahrin, I Love You; I Just Can’t Tell You

Penulis   Alvi Syahrin Tebal viii + 276 hlm Penerbit   Gagasmedia Cetakan   Pertama, 2015 Harga   Rp55.000 “Cinta yang sesungguhnya tidak perlu menggebu-gebu. Cinta yang sesungguhnya itu menenangkan.” -I Love You; I Just Can’t Tell You Cinta pertama, menjadi garis besar dalam novel ke-3 karya Alvi Syahrin ini. Ikut dalam series Love Cycle , buku ini menjadi pembuka bagaimana siklus cinta itu bergulir. Mengisahkan Daisy Yazawa, gadis ‘luar biasa’ yang selalu ingin tumbuh dewasa dan merasakan cinta seperti remaja kebanyakan. Di awal bab, penulis sudah membeberkan konflik batin dalam dirinya. Daisy yang tidak tumbuh merasa selalu diejek teman-temannya akhirnya melabuhkan hati pada seorang kakak mahasiswa bernama Alan Atmadjaya. Selanjutnya kisah-kisah pun bergulir, kehadiran Violetta (Ve), teman Al-begitu ia memanggil Alan-juga  memiliki kisah tersendiri dan rahasia yang disimpannya rapat-rapat. Siapa menyangka detik yang begit...

Rayakan Siklus Cinta lewat Untaian Nada

Mengenal siklus cinta ibarat menyelami siklus hidrologi. Kau tahu kenapa? Sebab perputaran air tak melulu menyoal siklus panjang ataupun sedang, terkadang air sudah merasa cukup dengan siklus pendeknya.  Sebagaimana halnya dengan cinta, setiap dari kita punya siklusnya masing-masing. Dan serupa kisah kau dan aku, kita telah melewati 6 fase luar biasa yang menurutku terlampau pantas untuk diiringi dengan alunan lagu. Hai, kau, temanku, mari merapat dan dengarkan sejenak. Mari selami rupa-rupa rasa yang sempat kau torehkan dalam hidupku. Tembang-tembang ini, bukankah mereka terdengar syahdu di telingamu? Meski malu, harus kuakui 'When You Love Someone' milik Endah N Rhesa jadi lagu kebangsaanku kala itu Cinta Pertama : I love you, I just can't tell you.  #1. When You Love Someone - Endah N Rhesa “Jatuh cinta pada kali pertama memberiku satu kesempatan untuk menorehkan luka memar. Memar yang kubuat sendiri kala aku tak mampu bersuara dan berujar bahwa aku me...