Skip to main content

Posts

Memorable Journey to Bogor : Serba Pertama

Setelah melalui tekanan pikiran yang berbuah manis di kompetisi DBL bulan lalu, ternyata di bulan Oktober ini, I got a big surprise a week before my birthday! Yah, ucapan-ucapan yang sekadar lalu, sambil mengungkap, "kita harus bisa ke Bogor" akhirnya diijabah sama yang di atas. Jadi, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang bisa kamu dustakan?   Sebelum beranjak ke petualangan menarik di Bogor, saya mau cerita sedikit nih, tentang DBL. Lomba jurnalistik yang baru pertama kali saya ikuti, dan tentu saja lomba ini memberi saya banyak pengalaman dalam menulis berita. Meski sempat agak malas di awal-awal kompetisi, akhirnya saya bisa menuntaskan naskah berita yang membuahkan nilai 7,68 dari dewan juri. Menempati peringkat empat kategori writer , sungguh saya senang sekali! Huge thanks buat Mas Vian (Irviandi) yang meski jarang saya hubungi, ternyata ilmunya sangat manjur tentang kepenulisan. 10 thumbs up , deh! Setelah move on dari kompetisi DBL, saya punya janji dengan diri...

Where's Good in Good Bye?

Baru saja Diana selesai memanggang kue coklat kesukaan pria itu. Bahkan peluhnya belum kering sempurna, ia sudah harus berjalan mendekati gagang pintu untuk mengetahui apa yang terjadi di balik sana. Suara bel itu meraung-raung tepat pukul empat tiga puluh sore hari. Jam-jam yang sama ketika Diana dan Bara seringkali bercengkerama sembari mencicip cookie yang dibuat gadis itu tiap mensiversary mereka. Perayaan yang sudah tak pernah Diana kenali beberapa tahun belakangan ini, yang meski begitu ia akan secara otomatis membuat kue, kue yang beberapa tahun ini ia cicipi sendiri. Ia hidup dalam kesendirian yang panjang. Kesendirian yang lelap, yang belakangan ini membuatnya frustrasi setengah mati. Diana tak pernah berpikir bahwa kisah cintanya akan terkatung-katung layaknya jemuran tetangga yang sering ia temui di seberang pagar. Ia tak pernah mengira, bahwa ketidakhadiran Bara akan membawanya menjadi sesedih ini. Diana tak pernah tahu bahwa hari ini adalah saatnya, hari ini akhir...

[Flash Fiction] Rana Merana

pic taken from: www.hdwallpapersinn.com Ia selalu memandang layar ponsel. Berharap nama itu muncul disana. Berharap benda itu bergetar dan mendentingkan bunyian yang ia nantikan. Ia selalu meluangkan waktu untuk melihat ke arah pintu. Berharap ada langkah yang menuju ke situ dan berdiri di ambang pintu. Selalu begitu. Di setiap bintang bergerak sedikit demi sedikit. Di saat angin darat mulai bertiup. Kala malam mulai mengambil alih senja. Gadis itu selalu saja seperti itu. “Bagaimana kabarmu?” Gadis itu mengetik dengan cepat. Jarinya beradu menelusuri nama-nama kontak di ponselnya. Tak ditemukan nama yang ia cari. Dahinya mengernyit. Namun itu bukanlah masalah baginya. Ia sudah hafal betul nomor-nomor cantik itu di luar kepala. Angka 13 digit itu selalu menempel di otaknya. Ia membaca pesan itu berulang-ulang hingga ia yakin akan mengirimkannya ke tempat yang benar. Setelah menekan tombol ‘Kirim’, kemudian ia segera mengembalikan benda itu tepat di sebelah bantalnya. H...

LELAKI ABU-ABU

Si Merah Tua, Si Kuning, dan kini kusebut kau sebagai Si Abu-Abu. Tak ada seorangpun yang tahu, atau bahkan mengira. Aku takkan mengijinkan mereka tahu. Karena bila mereka berhasil menerka dengan benar, maka dengan susah payah aku akan menyembunyikan hatiku dibalik bayangan. Berkilah dengan sejuta cara, agar mereka tak tahu kamu. Lelaki abu-abu, ragamu yang kukhidmati dalam diam. What comes easy, will go easy, dan sebaliknya. Pernah tahu kata-kata itu bukan? Yah, aku telah mencoba mengklasifikasikanmu. Tapi aku gagal. Aku tak berhasil menerka, apakah dirimu ialah seseorang yang datang dengan mudah? Atau lelaki abu-abu yang kedatangannya sangat sulit kunantikan hingga aku tak sampai hati untuk menunggu lebih lama? Hai, lelaki abu-abu, aku tak tahu kamu pria model yang mana. Tapi yang jelas, kamu bukan atau belum menjadi layaknya si biruku yang kucintai setengah mati atau menjadi pria-pria tampan lain yang hanya suka kunikmati wajahnya barang sekejap. Aku tak tahu kamu itu yang ma...

LARI

"Kata-kata menyembuhkanku." Aku tak punya cukup basa-basi untuk memulai. Biarlah malam ini dimulai dengan ketidakjelasan, sebuah curahan hati. Sedikit tentang kejenuhan dan dirundung rasa bosan. Biarlah kata yang menyelamatkanku, biarlah deretan diksi meninabobokkanku hingga ke fantasi. Ke tempat tanpa realitas. Ke tempat tanpa segala rutinitas berada. Karena aku cuma butuh sedikit pelarian. Sedikit berlari di depanmu.  Mengabaikanmu sesaat.

Hello, Mister @yulianzone !

Ah, 4 Februari! Surat cinta untuk #selebtwit. Siapa ya? Butuh beberapa waktu untuk memutuskan siapakah orang yang tepat. Dan mendadak, simpul syaraf memekakkan sebuah nama, ialah @yulianzone ! Yulian Eka Aditya dengan karya-karya yang membuat hidung kembang-kempis. Mulai, aja, yuk! :) Hello, Mister! Aku suka gambar-gambarmu! Mungkin kamu berada di barisan pertama kala Tuhan tengah membagikan jatah tangan pada hamba-Nya! Mungkin saja kamu telah booking duluan sebelum bayi-bayi lain berada di antrian? Ah, jika begitu, maka itu tidak adil! Instagram- mu itu loh! Bikin candu! Buat geleng-geleng kepala hingga tak dapat berucap apa-apa. Ah, aku suka kamu! (Ehm, maksudku karya-karyamu) Aku tak punya ide untuk menuliskan surat cinta untukmu, karena pada akhirnya karyamulah yang terus-terusan aku kagumi. Maka sekian saja, ya, Mister @yulianzone. Maaf jika terlalu singkat dan ada yang kurang mengenakkan di hati. Maklumi saja, aku terlalu nervous menuliskan ini untukmu.  P.S...

Surat Cinta untuk Si Merah Tua

Aku tak akan memberitahumu seperti apa ia. Apakah selembar nyawa berpindah atau hanya sebuah benda yang diam di tempat. Aku hanya menyebutnya sebagai Si Merah Tua. Aku ingin agar kau menerka, siapakah gerangan dirinya. Mari kita mulai saja. Hai kamu, Si Merah Tua. Sebenarnya bukan kali ini saja kita dipertemukan. Hanya saja, masalah waktu ketika kau dan aku berubah posisi. Dan entahlah, kupikir letakmu sekarang tak jauh dariku layaknya dulu. Hai kamu, Si Merah Tua. Kamu bukan pengharapanku yang terbesar. Karena aku tak mau terbodohi lagi layaknya si Biru yang cintanya sudah uzur. Aku hanya senang melihatmu berada disitu setiap waktu. Entah terdiam atau mulai berpindah posisi. Hai kamu, Si Merah Tua. Jangan terlalu takut aku akan jatuh terlalu dalam. Karena aku sudah punya perisai dan benteng di belakang. Biarkan saja semua ini seperti yang memang seharusnya ada. Tanpa paksaan. Tanpa ungkapan. Atau pengungkapan. Sementara ini, seperti ini saja sudah cukup. Hai kamu, Si Merah T...