Skip to main content

Posts

Cemburu Masa Lalu

“Res, jangan bilang Yasmin, ya,” tutup lelaki itu hati-hati. Ia tengah menunggu di kursi panjang. Kaos branded , celana tiga perempat, tas selempang berbahan kulit, sandal crocs kuning dan sepasang kacamata. Lelaki itu tengah menikmati sebotol teh hijau sembari memasukkan ponsel pintarnya yang baru saja ia gunakan untuk berbicara dengan seseorang di ujung sana. Bila kau menilik penampilannya, mungkin ia tak terlalu pantas untuk berdiam diri di tengah hiruk pikuk bandara. Tanpa tas ransel ataupun koper besar. Lelaki itu berjalan dengan santainya. Ya, benar saja. Ia hanyalah seorang anak kelas dua SMA yang memanfaatkan libur Ujian Nasional kakak kelas untuk kembali ke kampung halaman. Kembali ke kampung untuk satu hal, untuk menemui satu orang. Seseorang yang selalu ingin ia tatap langsung dalam diam. Tak salah lagi, lelaki itu ialah seorang pengelana cinta. --

[FF] Malu Bila Kau Sentuh

Padang itu tak seperti padang ilalang yang kecoklatan. Tak juga sebuah padang rumput yang hijaunya segarkan mata. Ia lebih pantas disebut hamparan tanah yang luas. Dimana mungkin rerumputan ada, namun jarang-jarang. Ada tanaman. Namun hanya bergumul di satu sisi. Ia selalu berada disitu sendirian. Bukan karena ia ditolak teman-temannya di lahan sebelah. Hanya saja, Tuhan yang menempatkan ia disitu. Tanpa ia mampu bergerak dan berpindah barang sesenti pun. “Kamu jaga di pohon sebelah sana, ya!” seorang anak dengan celana selutut. Matanya coklat. Kulitnya putih kemerahan seperti kepiting rebus. Anak itu hasil persilangan dua ras yang berbeda. Lelaki itu berlari, mencari persembunyian yang pas agar tak ditemukan. Di sebuah tempat di padang ini yang hanya ada pepohonan dengan jarak jarang-jarang. Sementara, ia masih tetap berada disitu. Ia tersipu malu. Melihat anak lelaki tampan yang berlari ke arahnya.  Ia berdebar-debar. Ia bergeming namun ia tahu ia sedang jatuh cinta.  ...

Teman Lama

Hai, teman lama Tak usahlah kau anggap begitu Aku pun tahu Aku bukan teman baik Seperti temanmu yang lalu-lalu Hai, teman lama Tak usahlah kau anggap begitu Mungkin kau bilang aku teman palsu Tapi sesungguhnya bukan itu maksudku Aku tak pernah tak suka pada mimpi-mimpimu Aku tak pernah tak suka pada usaha-usahamu Tapi kau yang buatku begitu Ketika merah jambu Seakan buatmu buruk di hadapanku Tak pernah sekalipun kubenci mimpimu Tak pernah anggapmu sebagai pesaing terberatku Salah, bila kau nilai begitu Aku hanya tak tahu Entah kenapa kelakuanmu buatku minta ampun Si merah jambu buatmu inginkan semua harus tertuju padamu Padahal disini masih ada aku Maaf bila sudah buatmu salah paham Tapi akan kuyakinkan padamu Bukan mimpimu yang buatku tak enak hati padamu Tapi merah jambu itu Yang buatku enggan terhadapmu Maaf, wahai teman lamaku

{FF] Manis

Berkata bukan hanya tentang tingkah tetapi juga angan-angan. Andai aku jadi dia, selalu saja. Andai aku berbeda, masih saja diungkit. Padahal, semesta sudah menjanjikan banyak hal tentang menjadi dirimu sendiri. "Ngapain kamu disini? Makhluk kayak kamu nggak cocok ada disini!" Ia dikerumuni oleh semua makhluk, Ah! mereka mengagung-agungkan namanya. Hingga ia sudah tak berpijak di tanah. Yang satu lagi menunduk. Tak tahu harus bagaimana menghadapi makhluk yang sombong seperti yang ada di hadapannya. Ia menunduk dan pergi. Sesampainya di rumah. Berkacalah ia. Ah , menurutnya ia tak ada bedanya dengan makhluk sok yang ditemuinya tadi. Tapi, mengapa mereka mengerumuninya? Beda kami hanya sedikit, makhluk sok itu punya banyak kristal. Tak seperti dirinya, yang tak punya kristal-kristal itu. Ah, tapi ia punya kulit yang lebih halus daripada makhluk sok itu. Ah , Ibu! Ada apa?! Kenapa?! Aku juga ingin laku di hadapan mereka. -- Raksasa besar itu mengambil sapu. Ia tercenga...

[PUISI] Cahaya Harapan

Judul : Cahaya Harapan Datang dari pintu kedatangan Dibawanya deru gelora jiwa Bersandar pada lekukan kayu Di sudut lain pada hampa dengan waktu Tabur! Tabur saja cahaya surya! Hingga aku tak kuat lagi menahan silaunya Hingga aku tak mampu lagi berpegangan  pada bumi Hingga aku terhempas keras, keras, keras sekali Di padang gelap terdampar Dimana cahaya itu lenyap, paripurna Hilang… Hilang… Hilang… Pulang menuju pintu keluar Langkahnya masih sama Yang beda hanyalah siapa yang tertinggal di belakang Oh bukan, siapa yang ditinggal di belakang Samar-samar mencari sisa-sisa cahaya Yang menyala dari sela-sela Tak jua ditemui barang secuil pun Padam, padam Cahaya itu padam tanpa disuruh Buat siapa yang di belakang sesak Buat siapa yang di belakang perlu buat cari 9 matahari Karena takut 1 tak cukup Takut 1 akan hilang Maka ia butuh 9 Cahaya itu memabukkan Buat kepayang bagi siapa yang terpapar Cahaya harapan Lenyap...

Bara dan Diana

Draf ini mengendap seperti kapur yang berkumpul di dasar sebuah gelas air kapur. Draf ini sudah tak punya rasa, karena rasa yang sebenarnya ada sudah hilang bersama kumpulan angin dan ikut bersama tanah basah. Aku hanya ingin mempublikasikan ini padamu. Sebuah cerita sederhana yang berulang kali menjadi tema kisahku. Kini, draf ini hanyalah menjadi sebuah tulisan biasa. Karena tidakkah kau tahu, aku telah melupakan masa lalu. Atau lebih tepatnya berdamai dengan masa lalu. Kau, bukankah begitu? Aksara Diana Aku menatap ciptaan Tuhan yang satu itu. Sempurna. Iya, aku mengaguminya dari kejauhan. Matanya memicing dengan paripurna. Memancarkan keindahan yang tak dapat membuatku henti untuk memandangnya.  Rangka yang satu ini benar-benar membuatku tak mengerti. Ia dapat berbicara padaku tentang hal yang manis dengan nada bercanda. Tuhan, ia sudah berkali-kali membuatku terbang ke langit ke tujuh. Kali ini aku akan mendeskripsikan sedikit tentangnya kepadamu. Dia lelaki yang pad...

Bukan Almari, Tapi Kolongnya

Almari, lemari atau istilah lain untuk menyebut benda penyimpan barang-barang itu. Tak ada yg spesial dari almari tidurku. Kecuali disana ada boneka susan yang berkali-kali buatku paranoid. Ruang kecil di bawahnya, tempat debu dan gelap bergumul jadi satu. Dimana ijuk harus bersusah payah untuk mengantar debu-debu itu keluar dari sarangnya. Ya, ruang itu bernama kolong. Seperti kisah-kisah mengenai kolong ranjang yang menakutkan, kolong meja tempat sembunyi yang bisa buat gatal seperti di iklan lotion nyamuk, atau cerita memilukan dari kolong langit. Kolongku, kolong almari juga punya cerita. Hanya saja ia tak semenakutkan apa yang kau kira di kepalamu saat ini. Kolong almariku, yang sesekali ditemukan selimut atau sajadah yang meluncur dari kasur. Tak jarang juga mukena ikut menyusup, sejenak menginap di bawah naungan sang almari yang perkasa. Kolong almariku, yang sesekali bila kakiku masuk ke sana rasanya seperti takut tak akan kembali. Takut ada tangan lain yang mencengker...