Skip to main content

Posts

[PUISI] Cahaya Harapan

Judul : Cahaya Harapan Datang dari pintu kedatangan Dibawanya deru gelora jiwa Bersandar pada lekukan kayu Di sudut lain pada hampa dengan waktu Tabur! Tabur saja cahaya surya! Hingga aku tak kuat lagi menahan silaunya Hingga aku tak mampu lagi berpegangan  pada bumi Hingga aku terhempas keras, keras, keras sekali Di padang gelap terdampar Dimana cahaya itu lenyap, paripurna Hilang… Hilang… Hilang… Pulang menuju pintu keluar Langkahnya masih sama Yang beda hanyalah siapa yang tertinggal di belakang Oh bukan, siapa yang ditinggal di belakang Samar-samar mencari sisa-sisa cahaya Yang menyala dari sela-sela Tak jua ditemui barang secuil pun Padam, padam Cahaya itu padam tanpa disuruh Buat siapa yang di belakang sesak Buat siapa yang di belakang perlu buat cari 9 matahari Karena takut 1 tak cukup Takut 1 akan hilang Maka ia butuh 9 Cahaya itu memabukkan Buat kepayang bagi siapa yang terpapar Cahaya harapan Lenyap...

Bara dan Diana

Draf ini mengendap seperti kapur yang berkumpul di dasar sebuah gelas air kapur. Draf ini sudah tak punya rasa, karena rasa yang sebenarnya ada sudah hilang bersama kumpulan angin dan ikut bersama tanah basah. Aku hanya ingin mempublikasikan ini padamu. Sebuah cerita sederhana yang berulang kali menjadi tema kisahku. Kini, draf ini hanyalah menjadi sebuah tulisan biasa. Karena tidakkah kau tahu, aku telah melupakan masa lalu. Atau lebih tepatnya berdamai dengan masa lalu. Kau, bukankah begitu? Aksara Diana Aku menatap ciptaan Tuhan yang satu itu. Sempurna. Iya, aku mengaguminya dari kejauhan. Matanya memicing dengan paripurna. Memancarkan keindahan yang tak dapat membuatku henti untuk memandangnya.  Rangka yang satu ini benar-benar membuatku tak mengerti. Ia dapat berbicara padaku tentang hal yang manis dengan nada bercanda. Tuhan, ia sudah berkali-kali membuatku terbang ke langit ke tujuh. Kali ini aku akan mendeskripsikan sedikit tentangnya kepadamu. Dia lelaki yang pad...

Bukan Almari, Tapi Kolongnya

Almari, lemari atau istilah lain untuk menyebut benda penyimpan barang-barang itu. Tak ada yg spesial dari almari tidurku. Kecuali disana ada boneka susan yang berkali-kali buatku paranoid. Ruang kecil di bawahnya, tempat debu dan gelap bergumul jadi satu. Dimana ijuk harus bersusah payah untuk mengantar debu-debu itu keluar dari sarangnya. Ya, ruang itu bernama kolong. Seperti kisah-kisah mengenai kolong ranjang yang menakutkan, kolong meja tempat sembunyi yang bisa buat gatal seperti di iklan lotion nyamuk, atau cerita memilukan dari kolong langit. Kolongku, kolong almari juga punya cerita. Hanya saja ia tak semenakutkan apa yang kau kira di kepalamu saat ini. Kolong almariku, yang sesekali ditemukan selimut atau sajadah yang meluncur dari kasur. Tak jarang juga mukena ikut menyusup, sejenak menginap di bawah naungan sang almari yang perkasa. Kolong almariku, yang sesekali bila kakiku masuk ke sana rasanya seperti takut tak akan kembali. Takut ada tangan lain yang mencengker...

Mata

Mata. Selalu saja mata. Mata hati, mata ikan, mata-hari, atau bahkan Mata Najwa.  Mata, apakah ialah sebuah jendela?  Yang bila ditilik sedikit lebih lama akan terlihat apa yang dipancarkan oleh hati? Apakah ialah sebuah indera istimewa, yang bila ditelusuri akan penuh rahasia. Di setiap pandangan yang tertangkap oleh mata, di setiap sudut terpotret dalam indera. Bukankah semuanya hanya akan jadi kenangan? Yang coba diputar ulang otak yang ingin sejenak lupa realitas kini? Menjelma jadi sebuah kaleidoskop. Kumpulan pandangan-pandangan.  Kumpulan jejak-jejak gambar tanpa suara.  Yang menuturkan bahwa pernah ada sesuatu. Pernah ada peristiwa, yang tak luput dari mata. Mata, yang bahkan menangkap gambar dari mata yang lain. Yang saling bertukar praduga. Yang saling menjelajah sembunyi-sembunyi. Mata. Selalu saja pandangan mata.  Selalu. Pandangan itu. Pandangan matamu itu. Ditulis untuk tantangan *36 Days Random Daily Writing P...

Rindu

Rindu Bukankah itu kata yang tertera bila kau menilik ke hatiku Ada satu cela Dalam satu dimensi ruang dan waktu Dimana aku terus menungguimu Tanpa tahu akankah kau disana juga begitu Rindu Apalah arti kata itu Bila tak saling tahu Hanya saling menjelma menjadi hempasan debu 22 Juli 2013

[OBROLAN SORE] Bicara tentang Passion

sumber: google Saya baru saja menutup lembaran-lembaran awal novel Unforgettable milik Winna Efendi dan memutuskan untuk mendudukkan diri di depan layar laptop ini. Sebelumnya saya selesai membaca novel karya Windy Puspitadewi, Morning Light ditemani bakpia oleh-oleh papi saya seusai pulang dari Trawas untuk urusan kantor dan secangkir kopi luwak sachet -sebenarnya saya sudah bosan dengan kopi putih yang katanya tak bikin kembung itu- Sesungguhnya, kedua novel itu telah ada di rak buku saya untuk waktu yang cukup lama, hanya saja baru kali ini saya menyempatkan diri membacanya. Jujur saja, kemarin-kemarin saya lebih terpikat dengan kumpulan cerita yang menurut saya ringkas dan ceritanya sungguh mengesankan. Selesai membaca Morning Light , saya jadi berpikir ulang dengan apa yang orang-orang sebut sebagai PASSION . Saya kira saya harus menciptakan kebahagiaan dari passion saya. Di buku itu, passion adalah sesuatu yang kita cintai. Yang dilakukan secara bersemangat dan berdebar-...

Mereka yang Jatuh Cinta Diam-Diam

" Selamat malam,ya ." Seorang rangka manusia membaca sebuah pesan dari layar ponsel rangka manusia di sebelahnya. "Cie yang dikasih ucapan." lanjutnya. "Nggak." jawab si empunya benda elektronik itu dengan tersipu malu. " Kamu kok nggak tidur? " "Ahay. Romantis amat." Kumpulan itu jadi begitu ramai. Riuh suara mendengungkan kata "Cie" dan "cie", menampakkan senyum yang mengembang dari dua insan yang terlibat disana. Dua insan yang tak jelas apakah tawanya adalah sebuah pertanda setuju atau hanya tanggapan bingung menanggapi ulah teman-temannya. Entahlah. -- Di sudut lain. Masih di tempat yang sama. Ada raga yang tengah terduduk diam. Lebih tepatnya berpura-pura sibuk bersama lembaran kertas miliknya. Ada sesuatu yang berdegup kencang tepat di dalam dadanya. Sebuah energi panas seketika menyetrum organ-organ miliknya. Nafas panjang sesekali ia hirup. Indra penglihatannya ia paksa untuk tak menumpahkan segala s...